Utsman
bin Affan diangkat menjadi khalifah atas dasar musyawarah dan keputusan
sidang Panitia enam, yang anggotanya dipilih oleh khalifah Umar bin
khatab sebelum beliau wafat. Keenam anggota panitia itu adalah: Ali bin
Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqas,
Zubair bin Awwam dan Tholhah bin Ubaidillah.
Tiga hari setelah Umar
bin khatab wafat, bersidanglah panitia enam ini. Abdurrahman bin Auff
memulai persidangan dengan mengatakan siapa diantara mereka yang
bersedia untuk mengundurkan diri dari calon khalifah pengganti Umar bin
Khattab, Abdurrahman bin Auf lalu menyatakan dirinya mundur dari
pencalonan Khalifah. Tiga orang lainnya pun menyusul. Tinggallah Utsman
bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Pada saat itu Abdurrahman bin Auf
ditunjuk menjadi penentu, Abdurrahman bin Auf lalu menemui banyak orang
untuk meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat pun terbelah.
Konon pada saat itu, Sebagian besar warga cenderung memilih Utsman bin
Affan. Sehingga sidangpun memutuskan Ustman bin Affan sebagai khalifah
pengganti Umar bin Khattab. Utsman bin Affan di syahkan menjadi khalifah
ke-3 di Masjid Nabawi pada tahun 23H / 644 M. Maka sejak saat itulah
Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga dan yang tertua. Pada saat
diangkat menjadi khalifah, Beliau telah berusia 70 tahun. Peristiwa ini
terjadi pada bulan Muharram tahun 24H. Pengumuman besar-besaran
kekhalifahan Utsman bin Affan dilakukan setelah selesai Shalat dimasjid
Madinah. Masa kekhalifan Utsman bin Affan merupakan masa yang paling
makmur dan sejahtera. Konon menurut beberapa ahli sejarah islam
mengemukakan, pada masa itu rakyatnya sampai bisa melakukan ibadah haji
sampai berkali-kali. Bahkan seorang budak dijual sesuai berdasarkan
berat timbangan badannya. Beliau adalah khalifah pertama yang melakukan
perluasan Masjid Al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena
semakin ramainya umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (yaitu
ibadah haji). Pada masa kekhalifahannyalah dicetuskan pula adanya
polisi keamanan bagi rakyat dan membuat bangunan khusus untuk mahkamah
dan mengadili perkara. Hal ini belum pernah dilakukan oleh khalifah -
khalifah sebelumnya. Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khotob biasanya
mengadili suatu perkara di masjid.Pada masa kekhalifahan beliau juga,
khutbah Idul fitri dan Idul adha didahulukan sebelum sholat, Begitu juga
adzhan pertama pada sholat Jum'at. Beliau memerintahkan umat Islam pada
waktu itu untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong untuk
kepentingan pertanian umat islam.
Di masa kekhalifahannya pula,
kekuatan Islam dilebarkan dan makin diperkuat pertahanannya dengan
mempunyai armada laut yang tangguh untuk pertama kalinya dalam sejarah
kemajuan islam. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria,
Palestina dan Libanon membangun armada itu, dibawah perintah khalifah
Utsman bin Affan. Sekitar 1.700 kapal dipakai untuk mengembangkan
wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur.
Konstantinopel pun sempat dikepung pada saat itu.
Dan berikut ini adalah prestasi yang diperoleh islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan, antara lain :
- Menaklukan Syiria, kemudian mengakat Mu'awiyah sebagai Gubernurnya.
- Menaklukan Afrika Utara, dan mengakat Amr bin Ash sebagai Gubernur disana.
- Menaklukan daerah Arjan dan Persia.
- Menaklukan Khurasan dan Nashabur di Iran.
- Memperluas Masjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, Mekkah.
- Membukukan
dan meresmikan mushaf yang disebut Mushaf Utsamani, yaitu kitab suci
Al-qur'an yang dipakai oleh seluruh umat islam diseluruh dunia sampai
sekarang ini. Khalifah Ustman pada saat itu membuat lima salinan dari
Alqur'an ini dan menyebarkannya ke berbagai wilayah dan negara Islam.
- Memerdekakan seorang budak Setiap hari jum'at (bila ada)
"Sebab-sebab Terjadinya Kekacauan dalam Pemerintahan khalifah Utsman bin Affan"
Pada
mulanya pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan berjalan lancar. Namun
karena adanya pemecatan seorang Gubernur Kufah yang bernama Mughirah bin
Syu'bah yg dipecat karena kinerja yg kurang baik dan penyalah gunakan
jabatan, kemudian Khalifah Utsman bin Affan menggantinya dengan Sa'ad bin Abi Waqqas (atas dasar
wasiat khalifah Umar bin Khatab), Kemudian Khalifah Utsman memecat
pula sebagian pejabat tinggi dan pembesar yang kurang baik lainya, pada
saat itu untuk mempermudah pengaturan, dan mengisi kelowongan kursi dari para
pejabat dan pembesar itu, Khalifah Utsman memutuskan untuk mengisi dan mengganti sementara dengan
famili dan sahabat dekat khalifah Utsman yg kredibel (mempunyai
kemampuan) dalam bidang tersebut. Akan tetapi tindakan Khalifah
Utsman yg terkesan nepotisme ini, mengundang protes besar dari orang-orang
yang dipecat, maka setelah peristiwa pemecatan itu, datanglah gerombolan
yang sangat besar dipimpin oleh Abdulah bin Saba' yang menuntut agar pejabat dan
para pembesar yang baru diangkat oleh Khalifah Utsman untuk menggantikan
pejabat yg dipecat ini supaya diganti lagi atau dibatalkan. Usulan dari
gerombolan yg dipimpinan Abdullah bin Saba' ini ditolak oleh khalifah
Utsman. Karena beberapa alasan. Abdullah Bin Saba' adalah adalah
seorang pemimpin sebuah aliran yg disebut Syi'ah.
Karena merasa
sakit hati, Abdullah bin Saba' kemudian membuat propoganda
(mengembangkan pemahaman) yang hebat dan membentuk semboyan anti Bani
Umayah (termasuk anti Utsman bin Affan dan khalifah sebelumnya), Sehingga membuat penduduk setempat
banyak yang termakan hasutan Abdullah bin Saba'. Yang akhirnya
mengakibatkan, berdatangannya penduduk dari tiap daerah ke madinah dalam
jumlah yg sangat besar (ribuan) untuk menuntut kepada Khalifah Utsman bin Affan,
Namun tuntutan dari mereka ini tidak dikabulkan oleh khalifah Utsman
karena bertentangan dengan aturan kepemerintahan yg berlaku pada saat
itu, kecuali tuntutan dari orang Mesir, yaitu agar khalifah Utsman memecat
Gubernur Mesir, Abdullah bin Abi Sarah, dan menggantinya dengan Muhammad
bin Abi Bakar. Karena tuntutan orang mesir itu telah dikabulkan oleh
khalifah Utsman, maka mereka segera kembali ke mesir, Tetapi
sebelum mereka kembali ke mesir, mereka bertemu dengan seseorang yg
mengaku-ngaku membawa surat yg mengatas namakan dari khalifah Utsman bin
Affan. Yg isinya adalah perintah agar Gubernur Mesir yang lama yaitu Abdulah
bin Abi sarah membunuh Gubernur Muhammad Abi Bakar Gubernur baru
(Padahal surat itu adalah surat palsu / rekayasa yg dibuat untuk mengadu
domba dan menjatuhkan khalifah Utsman), Karena itu, mereka kembali lagi
ke madinah untuk meminta penjelasan tentang surat itu, dan berniat
untuk membunuh Khalifah Utsman bila ternyata surat itu memang benar dari
khalifah Utsman, karena mereka merasa dipermainkan dan dikhianati oleh khalifah Utsman.
Setelah
surat itu diperiksa oleh Utsman bin Affan, terungkaplah bahwa
sebenarnya yg membuat surat itu adalah Marwan bin Hakam. Akan tetapi
suatu hal yg tidak disangka dari sebelumnya, walaupun mereka sudah tahu
siapa yg membuat surat itu, mereka tetap menuntut dua hal kepada
Khalifah Utsman, yaitu:
- Supaya Marwan bin Hakam di qishas (hukuman bunuh karena telah membunuh orang).
- Supaya Khalifah Utsman meletakan jabatannya sebagai Khalifah.
Kedua tuntutan orang mesir itu tidak dipenuhi oleh Utsman bin Affan dan dengan penuh kebijaksanaan Khalifah Utsman menjawab:
Jawaban
untuk tuntutan pertama, "karena Marwan baru berencana membunuh dan
belum benar-benar membunuh", makanya dia tidak akan dihukum qishas,
Sedangkan jawaban dari tuntutan kedua, Beliau berpegang teguh pada pesan
Rasullulah SAW, "Bahwasanya engkau Utsman akan mengenakan baju
kebesaran, Apabila engkau telah mengenakan baju itu, janganlah engkau
melepaskannya".
Setelah mengetahui bahwa khalifah Utsman bin Affan
tidak mau mengabulkan tuntutan mereka, maka mereka melanjutkan dengan
pemberontakan, pengintaian, dan percobaan pembunuhan kepada khalifah
Utsman sampai lebih dari empat puluh hari lamanya mereka mengintai rumah Khalifah Utsman. Situasi saat itu dari
hari kehari semakin memburuk. Rumah khalifah Utsman dijaga ketat oleh
sahabat-sahabat beliau, seperti: Ali bin Thalib, Zubair bin Awwam,
Muhammad bin Thalhah, Hasan dan Husein bin Ali bin Abu Thalib, dan
muslimin yg lainnya, akan tetapi karena kelembutan hati dan kasih
sayang Khalifah Utsman, beliau tetap menghadapi kondisi seperti itu
dengan sabar, ikhlas, pasrah, dan tutur kata yang santun nan penuh
kebijaksanaan, Khalifah Utsman tidak sedikit pun merasa takut ataupun gentar untuk tetap memperjuangkan agama Allah dan memegang teguh ajaran islam.
Hingga pada suatu hari, tepat pada waktu yg telah
Allah SWT tentukan, dan Allah SWT mengizinkan hal itu terjadi, tanpa
diketahui oleh pengawal-pengawal rumah Utsman bin Affan, masuklah salah
seorang dari gerombolan pemberontak yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir
yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur'an.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa yang membunuh Khalifah Utsman bin
Affan adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat lain pula
menyebutkan pembunuh nya adalah Al Ghafiki dan Sudan bin Hamran.
Beliau
wafat pada tanggal 12 Zulhijah 35H atau 20 Mei 655M. dalam usia 82
tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. Beliau
dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.
Innalillahi wa inna ilaihi
roji'un, Semoga amal ibadah dan segala perjuangan, dan pengorbanan beliau
diterima Allah SWT, Amin Ya Robbal 'alamin...,
Sekian dulu
Postingan Ane Tentang "Sejarah Ringkas Sahabat Nabi Utsman bin Affan"
Semoga bermanfaat mohon maaf yg sebesar-besarnya atas segala kesalahan
dan kekurangan yg terdapat dalam artikel singkat ini, Wabillahi taufik wal hidayah,
Wassalamu 'alaikum Warahmatullohi Wabarokatuhu....